FEBI

FEBI

Kajen (02/11) – Pusat Studi Filantropi FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan Seminar Ziswaf bertema “Potensi dan Peran Ziswaf dalam Meningkatkan Perekonomian Umat” pada hari Selasa, 2 Desember 2025 di meetingroom lantai 3 FEBI. Kegiatan ilmiah dipandu oleh seorang moderator Hj. Rinda Asytuti, M.Si. dan menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yakni Prof. Dr. Mustofa Dasuki Kasbah, pakar wakaf dan ekonomi Islam dari American University in Cairo; K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. dari Pondok Modern Tazakka; serta K.H. Nashorin dari Baznas Kabupaten Pekalongan. Seminar tersebut diikuti oleh praktisi zakat dan wakaf, dosen, mahasiswa, pengurus lembaga filantropi Islam, Lazismu, Lazisnu, dan masyarakat umum yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan Ziswaf di Indonesia.

Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam kepada para kolega akademik yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berkontribusi dalam Seminar Ziswaf. Beliau menegaskan bahwa kajian filantropi dalam perspektif ilmu ekonomi syariah merupakan disiplin strategis yang memiliki distingsi akademik sekaligus nilai teologis, karena mengandung konsep divine tax sebagai bentuk “pajak akhirat” yang mendorong penguatan keseimbangan sosial dan pemberdayaan umat. Oleh karena itu, menurutnya, Ziswaf perlu terus digiatkan, dikembangkan, dan didorong agar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beliau berharap majlis ilmiah ini menjadi momentum penting dalam memperluas wacana intelektual, memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta melahirkan rekomendasi konstruktif bagi pengembangan ekosistem filantropi Islam di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mustofa Dasuki Kasbah menyoroti peran historis dan strategis wakaf dalam dunia Islam, khususnya dalam mendukung dakwah, pendidikan, dan kesehatan. Ia menjelaskan bahwa di banyak negara Muslim, wakaf telah menjadi fondasi penting bagi pembangunan sosial dan ekonomi melalui pendirian perguruan tinggi, rumah sakit, pusat kajian Islam, hingga lembaga pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memaksimalkan wakaf sebagai aset produktif yang mampu menopang kemandirian umat jika dikelola dengan profesional.

Prof. Dasuki menegaskan bahwa tantangan utama wakaf di Indonesia bukan terletak pada kurangnya aset, melainkan kurangnya tata kelola modern yang berorientasi pada produktivitas. Ia mendorong lembaga filantropi Islam untuk memperkuat manajemen, meningkatkan literasi wakaf di masyarakat, dan melakukan kolaborasi lintas lembaga untuk memperluas dampak sosial ekonomi wakaf di masa mendatang. Dengan pengelolaan yang tepat, menurutnya, wakaf dapat menjadi pilar pembangunan umat yang berkelanjutan.

Narasumber kedua, KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., memaparkan potensi besar zakat dan wakaf di Indonesia yang menurutnya belum terserap secara optimal oleh lembaga amil zakat dan nadzir wakaf. Ia menekankan bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menyimpan peluang ekonomi yang sangat besar melalui Ziswaf, baik dari sisi penghimpunan dana maupun pengelolaan program pemberdayaannya. Ia menjelaskan pentingnya inovasi, transparansi, dan akuntabilitas agar lembaga zakat dan wakaf yang berakar di masyarakat dapat meningkatkan kepercayaan publik.

K.H. Anang Rikza juga memaparkan strategi memaksimalkan potensi Ziswaf sebagai sumber pendapatan lembaga filantropi, termasuk melalui model bisnis syariah, kerja sama dengan sektor industri halal, serta pengembangan aset wakaf produktif. Ia mengajak peserta seminar untuk melihat Ziswaf tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang memiliki kekuatan besar dalam mengurangi ketimpangan sosial dan memberdayakan kelompok rentan.

Sementara itu, K.H. Nashorin dari Baznas Kabupaten Pekalongan menekankan peran Baznas dalam membantu pemerintah menyelesaikan problem-problem umat, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan penanganan bencana. Ia memaparkan berbagai program Baznas yang telah berjalan, seperti bantuan beasiswa bagi siswa kurang mampu, bantuan kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi melalui modal usaha untuk masyarakat dhuafa. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, Baznas, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan Ziswaf di tingkat lokal.

Pada penutup kegiatan, para narasumber sepakat bahwa Ziswaf memiliki potensi luar biasa dalam meningkatkan perekonomian umat jika dikelola secara profesional, amanah, dan inovatif. Pusat Studi Filantropi FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan berharap seminar ini dapat memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mendorong kolaborasi yang lebih luas antarlembaga Ziswaf demi terwujudnya kemandirian dan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : H. M. Shulthoni, M.S.I.,Ph.D.

Kajen (01/09) - Pusat Studi Filantropi (PSF) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan resmi menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pekalongan pada hari Senin, 1 September 2025. Kegiatan yang berlangsung di meetingroom lantai 3 FEBI tersebut dihadiri oleh para pengelola fakultas, dosen, serta perwakilan dari BAZNAS Kabupaten Pekalongan. Penandatanganan MoU ini menandai langkah strategis kedua institusi dalam memperkuat sinergi keilmuan dan kelembagaan pada bidang pengelolaan zakat nasional.

Kerja sama ini mencakup implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks akademik, PSF FEBI berkomitmen mengembangkan berbagai kegiatan ilmiah dan riset tematik seputar filantropi Islam yang dapat berkontribusi pada optimalisasi tata kelola zakat. Selain itu, ruang kolaborasi dibuka untuk memperkuat kapasitas SDM amil zakat melalui pelatihan, workshop, serta program pemberdayaan masyarakat berbasis riset.

Dalam sambutannya, Ketua BAZNAS Kabupaten Pekalongan, K.H. Muhatrom, menyampaikan apresiasinya atas terwujudnya kemitraan tersebut. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam mendorong profesionalitas pengelolaan zakat karena memiliki kapasitas pengkajian dan inovasi yang kuat. Menurutnya, sinergi dengan PSF FEBI akan membantu memperkuat sistem pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat secara lebih terstruktur dan berorientasi pada pemberdayaan mustahik.

Direktur Pusat Studi Filantropi FEBI, Abdul Ghofar Saifudin, M.S.I., mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat menjalin nota kesepahaman dengan BAZNAS Kabupaten Pekalongan. Ia menilai kerja sama ini menjadi tonggak penting bagi PSF FEBI dalam memperluas kontribusi akademik di bidang filantropi Islam. “Kami sangat bersyukur dapat bermitra dengan BAZNAS. Kesepahaman ini menjadi sarana untuk memperkuat peran PSF dalam mendorong inovasi pengelolaan zakat yang berbasis riset ilmiah dan praktik kelembagaan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Penandatanganan nota kesepahaman ini juga membuka peluang bagi mahasiswa FEBI untuk terlibat dalam kegiatan magang, penelitian lapangan, dan program pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan aktivitas BAZNAS Kabupaten Pekalongan. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan wawasan praktis mengenai pengelolaan zakat serta mendorong lahirnya generasi akademisi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan sosial berbasis filantropi Islam.

Selain aspek akademik, kerja sama ini turut mencakup pengembangan kelembagaan dalam rangka memperkuat kualitas tata kelola zakat nasional. PSF FEBI akan berperan dalam menyediakan rekomendasi ilmiah, pendampingan penyusunan pedoman teknis, serta kegiatan penguatan organisasi BAZNAS melalui pendekatan penelitian dan kajian empiris. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program pemberdayaan mustahik serta memperluas dampak sosial yang dihasilkan.

Suasana penandatanganan berlangsung formal namun penuh kehangatan, mencerminkan semangat kolaboratif antara dunia akademik dan lembaga pengelola zakat. Para dosen dan pengelola FEBI memberikan dukungan penuh terhadap kerja sama ini, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam memperkuat ekosistem filantropi Islam, khususnya di wilayah Kabupaten Pekalongan.

Dengan terjalinnya nota kesepahaman ini, FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan melalui Pusat Studi Filantropi memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam penguatan pengelolaan zakat nasional. Kolaborasi dengan BAZNAS Kabupaten Pekalongan diharapkan menghasilkan kontribusi nyata dalam peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan riset, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Abdul Ghofar Saifudin, M.S.I.

Kajen (02/12) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan secara resmi meluncurkan Pusat Studi Filantropi (PSF) pada Selasa, 2 Desember 2025. Kegiatan lounching yang berlangsung di meetingroom lantai 3 FEBI tersebut dipimpin langsung oleh Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag. Acara ini dihadiri oleh para pengelola fakultas, dosen, dan mahasiswa, menunjukkan dukungan penuh sivitas akademika terhadap hadirnya PSF sebagai pusat kajian baru yang strategis di lingkungan fakultas.

Peluncuran PSF FEBI ini menjadi langkah monumental dalam memperkuat ekosistem keilmuan di bidang filantropi Islam, yang memiliki relevansi tinggi bagi pengembangan ilmu ekonomi syariah. Pusat studi ini dirancang untuk menjadi ruang akademik yang memfasilitasi kajian mendalam, penelitian ilmiah, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Kehadiran PSF memperluas kontribusi FEBI dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara lebih terarah dan inovatif.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag menyampaikan bahwa pendirian dan peluncuran PSF merupakan langkah yang sudah seharusnya dilakukan, mengingat gagasan dan penamaan pusat studi ini sebenarnya sudah muncul empat tahun sebelumnya. Ia menegaskan bahwa filantropi dalam ilmu ekonomi syariah merupakan sebuah distingsi penting yang memperkaya khazanah keilmuan, sekaligus memiliki nilai strategis dalam kehidupan sosial. Lebih lanjut, ia menggambarkan filantropi sebagai divine tax atau “pajak akhirat” yang memiliki dimensi kemaslahatan luas.

Dekan FEBI menambahkan bahwa PSF perlu terus didorong untuk memainkan perannya sebagai pusat rujukan akademik dalam studi filantropi. Menurutnya, kehadiran PSF bukan hanya untuk memperkuat kajian teoretis, tetapi juga untuk mendorong praktik pengelolaan filantropi yang berdaya guna dan berbasis riset. “Semoga majlis ini menjadi momentum penting bagi pengembangan filantropi Islam di FEBI dan membawa keberkahan bagi seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FEBI juga mengumumkan pengurus PSF FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang berjumlah 6 (enam) orang yaitu:

  1. Abdul Ghofar Saifudin, M.S.I (Direktur)
  2. Bahtiar Effendi, M.E (Sekretaris)
  3. Siti Aminah Chaniago, M.S.I ( Bendahara)
  4. Muhammad Sulthoni, Ph.D (Divisi Riset dan SDM)
  5. Rinda Asytuti, M.Si (Divisi Mitra dan Kerjasama)
  6. Ali Amin Isfandihar, M.Ag (Divisi Media dan Publikasi)

Para pengurus ini diharapkan mampu membangun arah gerak kelembagaan PSF yang kokoh, visioner, dan produktif dalam menghasilkan karya ilmiah, program pemberdayaan, dan kolaborasi strategis dengan berbagai pihak eksternal.

Peluncuran PSF mendapatkan respons positif dari para dosen dan pengelola fakultas. Mereka menilai kehadiran PSF sebagai bentuk komitmen FEBI dalam memperkuat fokus kajian ekonomi syariah, khususnya yang berkaitan dengan filantropi modern. PSF juga dianggap sebagai wadah strategis untuk mengembangkan penelitian dan inovasi baru yang selaras dengan tantangan sosial-ekonomi umat di era kontemporer.

Mahasiswa juga menunjukkan antusiasme tinggi terhadap lounching PSF ini. Banyak di antara mereka yang berharap PSF tidak hanya menjadi pusat riset, tetapi juga membuka ruang partisipasi mahasiswa melalui kegiatan ilmiah, seminar, diskusi tematik, dan proyek pengabdian masyarakat yang relevan. Pelibatan mahasiswa diharapkan memperkaya pengalaman akademik dan memperluas kapasitas intelektual generasi muda di bidang filantropi Islam.

Dengan diluncurkannya PSF FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, fakultas menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem riset dan pengabdian masyarakat yang lebih kuat dan berorientasi pada keberlanjutan. PSF diharapkan menjadi pusat unggulan yang berperan aktif dalam mendorong inovasi, kolaborasi, dan transformasi pemikiran terkait filantropi Islam sebagai pilar penting ekonomi syariah. Peluncuran ini menjadi awal bagi perjalanan panjang menuju pengembangan keilmuan dan praktik filantropi yang semakin profesional dan bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Abdul Ghofar Saifudin, M.S.I.

Bandung (23/11) - Pondok Pesantren Baitul Hidayah menyelenggarakan Sarasehan Ilmiah Wakaf dengan tema “Dari Aset ke Amal: Sinergi Pesantren dengan Wakaf Menuju Kemandirian dan Inovasi” pada hari Ahad, 23 November 2025, yang menghadirkan para tokoh akademisi nasional dan internasional serta praktisi wakaf nasional. Acara ini bertujuan memperluas wawasan para pegiat wakaf, pengelola pesantren, serta masyarakat mengenai strategi transformasi aset wakaf agar mampu meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan Islam.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Mustofa Dasuki Kasbah selaku akademisi internasional menjadi pembicara utama yang menyampaikan perspektif teoritis dan konseptual mengenai peran strategis wakaf dalam pembangunan pendidikan berbasis pesantren. Ia menegaskan bahwa wakaf bukan hanya instrumen ibadah sosial, tetapi juga pondasi ekonomi yang mampu menggerakkan pembangunan berkelanjutan jika dikelola secara modern dan profesional.

Selain itu, K.H. Anang Rikza Masyhadi, Ph.D., praktisi wakaf sekaligus pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang, membagikan pengalaman konkret pengelolaan wakaf produktif yang telah berhasil di lembaganya. Ia menekankan pentingnya inovasi dalam memanfaatkan aset wakaf, mulai dari pengembangan unit usaha, diversifikasi model bisnis, hingga penguatan ekosistem ekonomi pesantren agar mandiri tanpa bergantung pada donasi rutin.

Sebagai narasumber pembanding, Muhammad Shulthoni, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memberikan ulasan kritis dan analitis terhadap paparan kedua narasumber sebelumnya. Ia menggarisbawahi perlunya integrasi ilmu akademik dan praktik di lapangan agar pengembangan wakaf pesantren tidak berhenti pada konsep ideal, tetapi mampu diwujudkan melalui tata kelola yang transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.

Dalam pandangannya, Muhammad Shulthoni menilai bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan ekosistem wakaf karena kedekatannya dengan masyarakat serta jaringan alumni yang luas. Namun, ia menegaskan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen keuangan syariah, pengelolaan aset, serta pemanfaatan teknologi agar wakaf dapat menjadi pengungkit ekonomi yang berdaya saing.

Sarasehan yang berlangsung interaktif tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari alumni pesantren, pengurus pesantren, akademisi, dan pegiat wakaf dari berbagai daerah sekitar Kota Bandung. Diskusi berkembang mulai dari isu kelembagaan, strategi pemberdayaan aset, hingga pentingnya sinergi antara pesantren, kampus, dan lembaga nadzir agar program-program wakaf produktif dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang.

Pada akhir acara, pimpinan Pondok Pesantren Baitul Hidayah, K.H. Iwan Sofyan Andi, M.Si. menyampaikan harapan agar sarasehan ini menjadi momentum awal terciptanya kolaborasi yang lebih kuat dalam pengembangan wakaf pesantren. Dengan sinergi yang baik antara teori, praktik, serta kritik konstruktif dari para ahli, pesantren diyakini dapat berkembang menjadi lembaga yang mandiri, inovatif, dan berkontribusi lebih luas bagi pembangunan ekonomi umat.

Kajen (6/11) - Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, H. Muhammad Shulthoni,M.S.I., Ph.D., hadir mewakili Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam acara Wisuda ke-2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES) Putera Bangsa Tegal. Acara yang berlangsung pada Kamis, 6 November 2025, di Hotel Grand Dian Slawi, Tegal, tersebut menjadi momentum bersejarah bagi para wisudawan yang tengah memasuki fase baru kehidupan akademik dan profesional mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Shulthoni, menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Optimalisasi Peran Ekonomi Syariah dalam Memperkuat Ekonomi Umat di Era Disrupsi Digital.” Beliau menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan secara strategis untuk mendorong pembangunan ekonomi umat, bukan justru menjadi ancaman bagi lembaga dan pelaku ekonomi syariah.

Dalam orasinya, beliau menjelaskan bahwa era disrupsi digital menghadirkan peluang besar untuk penguatan ekosistem ekonomi syariah melalui inovasi-inovasi seperti fintech syariah, wakaf digital, serta platform transaksi halal yang memudahkan akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah. Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini berpotensi membuka ruang inklusi keuangan dan mendorong kemandirian ekonomi yang lebih merata.

Muhammad Shulthoni juga menyoroti pentingnya literasi ekonomi syariah di tengah pesatnya transformasi digital. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat rentan terhadap praktik ekonomi yang tidak sesuai prinsip syariah, termasuk penipuan berkedok investasi digital. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, termasuk STIES Putera Bangsa, memiliki peran vital dalam memperkuat basis keilmuan dan etika ekonomi syariah bagi generasi muda.

Acara wisuda yang dihadiri oleh pimpinan STIES Putera Bangsa, dosen, orang tua mahasiswa, dan para tamu undangan tersebut berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Penyampaian orasi ilmiah oleh perwakilan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan karena memberikan wawasan baru mengenai tantangan dan peluang ekonomi syariah di masa depan.

Dalam penutup orasinya, Muhammad Shulthoni, berharap agar para wisudawan tidak hanya menjadi lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang mengintegrasikan nilai-nilai syariah dengan teknologi modern. Dengan demikian, mereka dapat turut serta membangun ekonomi umat yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan di tengah perubahan global yang semakin cepat.

Yogyakarta (24/11) - Pembinaan terhadap para nazir dari seluruh pengelola wakaf di Kota Yogyakarta pada Senin, 24 November 2025, menghadirkan narasumber utama Muhammad Shulthoni, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi penguatan kapasitas nazir dalam menghadapi kebutuhan pengelolaan wakaf yang semakin kompleks, khususnya pada skema wakaf uang yang kini berkembang pesat di Indonesia.

Kegiatan pembinaan diselenggarakan sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi nazir yang dikoordinasikan oleh lembaga pengelola wakaf Kota Yogyakarta. Peserta yang hadir berasal dari berbagai lembaga pengelola wakaf, seperti masjid, pesantren, yayasan sosial, dan lembaga filantropi Islam. Keikutsertaan mereka menegaskan tingginya komitmen Yogyakarta dalam memajukan tata kelola wakaf yang profesional dan berdampak luas bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Muhammad Shulthoni menegaskan bahwa wakaf uang merupakan instrumen strategis untuk mendorong pemberdayaan ekonomi umat. Ia menjelaskan bahwa fleksibilitas wakaf uang—yang dapat dihimpun dari banyak kalangan dan dikelola secara produktif—membuatnya menjadi alternatif pembiayaan yang berkelanjutan untuk sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, hingga pembangunan fasilitas umum. Namun demikian, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas manajemen yang diterapkan oleh para nazir.

Muhammad Shulthoni juga menguraikan kerangka regulasi nasional terkait wakaf uang, termasuk peraturan Badan Wakaf Indonesia (BWI), mekanisme kerja Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), serta kewajiban akuntabilitas nazir melalui pelaporan berkala. Ia menekankan pentingnya memahami standar operasional, mulai dari penghimpunan, penempatan dana, hingga penyaluran manfaat, agar pokok wakaf tetap terjaga dan hasilnya dapat disalurkan tepat sasaran.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi studi kasus yang memaparkan beberapa best practices pengelolaan wakaf uang di Indonesia. Para nazir diajak menganalisis model penghimpunan yang efektif, strategi investasi yang aman namun produktif, serta inovasi program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk membandingkan pengalaman, mengidentifikasi tantangan yang mereka hadapi, serta menemukan solusi bersama.

Diskusi interaktif berlangsung dinamis, menyoroti isu-isu aktual seperti rendahnya literasi wakaf uang di masyarakat, kebutuhan sertifikasi kompetensi nazir, hingga pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan wakaf. Peserta menyampaikan bahwa materi yang disampaikan Muhammad Shulthoni sangat relevan dengan permasalahan lapangan dan memberikan perspektif baru dalam mengembangkan tata kelola yang lebih profesional. Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antar lembaga nazir untuk memperkuat ekosistem wakaf.

Pada akhir kegiatan, para peserta menyampaikan apresiasi atas pembinaan yang diberikan. Para peserta berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas nazir dan mempercepat transformasi wakaf produktif di Kota Yogyakarta. Pembinaan yang dipimpin oleh Muhammad Shulthoni ini menjadi langkah strategis dalam menguatkan ekosistem wakaf uang yang lebih modern, transparan, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan umat.

Kajen (16/11) - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Muhammad Shulthoni, M.A., Ph.D., ditetapkan sebagai salah satu anggota Tim Perumus Risalah Konferensi Wakaf Internasional Sumatra Barat 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemprov Sumatra Barat yang bekerja sama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor yang menghadirkan pakar-pakar wakaf dari berbagai lembaga, perguruan tinggi, dan otoritas wakaf nasional maupun internasional di Hotel Truntum, Kota Padang, pada hari Ahad, tanggal 16 November 2025. Penunjukan Muhammad Shulthoni menjadi bukti kontribusinya dalam bidang wakaf dan pengembangan ekonomi syariah yang terus berkembang di Indonesia.

Forum internasional tersebut menjadi wadah strategis untuk merumuskan arah pembaruan dan penguatan ekosistem wakaf secara nasional. Tim Perumus, termasuk Muhammad Shulthoni, menyusun Risalah Konferensi Wakaf Internasional Sumatra Barat 2025 sebagai dokumen rekomendasi yang akan menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah pusat maupun daerah, lembaga wakaf, akademisi, dan masyarakat dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Risalah ini dirancang untuk menjawab kebutuhan literasi, regulasi, dan inovasi wakaf yang semakin kompleks dalam konteks pembangunan modern.

Adapun Rumusan Risalah Konferensi Wakaf Internasional Sumatra Barat 2025 secara rinci sebagai berikut:

  1. Mendorong peningkatan edukasi dan literasi wakaf secara menyeluruh bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah.
  2. Mendorong harmonisasi syariah, hukum positif, dan adat terkait dengan wakaf dan pengelolaannya.
  3. Mendorong pengembangan dan inovasi konsep wakaf yang selaras dengan perkembangan global, seperti wakaf uang, wakaf manfaat, wakaf profesi, dan bentuk wakaf lainnya.
  4. Mendorong pengelolaan wakaf yang profesional oleh nadzir maupun oleh pengelola wakaf profesional yang dipercaya oleh nadzir.
  5. Mendorong penyusunan regulasi dan kebijakan yang memperkuat ekosistem wakaf, termasuk insentif atau relaksasi pajak, optimalisasi wakaf uang sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan, serta penukaran harta benda wakaf.
  6. Mengusulkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia untuk menetapkan Hari Wakaf Nasional.
  7. Mendorong Sumatera Barat menjadi episentrum Gerakan Kebangkitan Wakaf Nasional melalui integrasi potensi wakaf dalam perencanaan pembangunan dan ekonomi daerah.

Dalam proses perumusan risalah tersebut, Muhammad Shulthoni berperan aktif memberikan perspektif akademis dan praktis berkaitan dengan edukasi dan literasi wakaf, inovasi wakaf modern, serta urgensi harmonisasi regulasi berbasis syariah dan hukum nasional. Ia menegaskan bahwa peningkatan pemahaman masyarakat terhadap wakaf merupakan pondasi penting untuk memaksimalkan potensi ekonomi umat. Selain itu, ia turut menyoroti kebutuhan akan profesionalisasi nadzir sebagai pengelola wakaf yang memiliki kompetensi, kredibilitas, dan kemampuan manajerial yang mumpuni.

Rumusan ini juga menekankan pentingnya dukungan regulasi pemerintah, termasuk insentif pajak dan mekanisme optimalisasi wakaf uang yang dapat mendorong pembangunan berkelanjutan. Usulan penetapan Hari Wakaf Nasional menjadi salah satu poin simbolik yang diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik dan komitmen negara terhadap pengembangan wakaf. Menurut Shulthoni, kebijakan ini akan memperluas ruang gerak edukasi serta memperkuat posisi wakaf sebagai instrumen sosial-ekonomi unggulan bangsa.

Sebagai penutup, risalah tersebut mendorong Sumatra Barat menjadi pusat Gerakan Kebangkitan Wakaf Nasional melalui integrasi potensi wakaf dalam pembangunan daerah. Sumatra Barat dinilai memiliki tradisi dan ekosistem sosial yang kuat untuk menjadi role model nasional. Dengan keterlibatan Shulthoni dalam tim perumus, diharapkan dokumen ini dapat memberikan arah baru bagi pengembangan wakaf yang lebih inklusif, inovatif, dan berdampak luas bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan masyarakat.

 

Kajen (13/11) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan terus memperkuat kapasitas institusionalnya melalui berbagai program kolaboratif yang berorientasi pada peningkatan mutu akademik dan akreditasi. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelibatan FEBI UIN Gus Dur sebagai co-host dalam International Conference yang diselenggarakan oleh UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi pada tanggal 12 – 13 November 2025. Keterlibatan ini tidak hanya menjadi bagian dari implementasi kerja sama yang telah disepakati kedua lembaga, tetapi juga selaras dengan upaya fakultas untuk memenuhi indikator kinerja akreditasi yang menuntut ekspansi jejaring akademik dan kontribusi dalam forum ilmiah internasional.

Konferensi internasional ini menghadirkan berbagai akademisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan isu-isu aktual terkait ekonomi Islam, bisnis, dan pengembangan masyarakat. Sebagai co-host, FEBI UIN Gus Dur berperan aktif dalam penyusunan program akademik, pemilihan panel diskusi, serta pelibatan dosen sebagai pemakalah dan moderator. Partisipasi ini menjadi bukti bahwa FEBI mampu berinovasi dan berkontribusi secara signifikan dalam kegiatan akademik yang diakui secara global, sekaligus menambah rekognisi institusi sebagai bagian dari capaian yang relevan dalam proses akreditasi.

Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag., menyampaikan rasa syukur serta kebahagiaannya atas kesempatan tersebut. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi ini memberi nilai tambah strategis bagi fakultas dalam upaya mencapai akreditasi unggul. Keikutsertaan FEBI dalam konferensi internasional, menurutnya, mencerminkan keseriusan fakultas dalam meningkatkan kualitas kegiatan akademik dan memperluas dampak keilmuan di tingkat global. Selain itu, Dr. Khafidz menekankan bahwa pengalaman ini akan memperkuat portofolio internasionalisasi fakultas yang sangat dibutuhkan dalam pemenuhan standar akreditasi nasional maupun internasional.

Kegiatan ini juga memberikan ruang akademik yang luas bagi dosen dan mahasiswa FEBI untuk meningkatkan kapasitas riset, memperluas jejaring ilmiah, dan memperoleh eksposur internasional. Melalui presentasi ilmiah dan diskusi panel, para peserta dapat bertukar wawasan serta membangun kolaborasi riset lintas institusi. Hal ini berkontribusi langsung terhadap penguatan budaya ilmiah fakultas dan menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian akreditasi, khususnya terkait mutu penelitian, publikasi, dan jejaring akademik.

Dengan terselenggaranya kolaborasi ini, FEBI UIN Gus Dur Pekalongan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama strategis yang mendukung peningkatan mutu akademik dan kelayakan akreditasi. Kolaborasi dengan UIN STS Jambi diharapkan menjadi pijakan untuk program lanjutan yang lebih luas, termasuk riset bersama, pertukaran akademik, dan kegiatan internasional lainnya. Langkah ini menunjukkan bahwa FEBI UIN Gus Dur siap bertransformasi menjadi fakultas yang unggul, berdaya saing, dan diakui secara global melalui sinergi dan kolaborasi akademik yang berkelanjutan.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Dr. H. AM. Muh Khafidz MS, M.Ag.

Kajen (15/11) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan kembali menunjukkan kontribusi strategisnya dalam peningkatan mutu tridharma perguruan tinggi. Dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Metodologi Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh LPPM UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, tiga narasumber dari UIN Gus Dur turut memberikan materi kunci. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Kamis–Sabtu, 13–15 November 2025, berlokasi di Hotel Gulala Guci, Tegal, Jawa Tengah, dengan melibatkan 40 peserta yang terdiri atas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Salah satu narasumber utama adalah Ade Gunawan, M.M., Ketua Program Studi Akuntansi Syariah FEBI UIN Gus Dur. Dalam paparannya, ia menyampaikan materi mengenai paradigma, teknik menemukenali dan memobilisasi aset, serta strategi pelaksanaan survei lapangan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Materi tersebut menekankan bahwa pendekatan berbasis aset (Asset-Based Community Development) menjadi salah satu pilar penting dalam kegiatan pengabdian kontemporer yang relevan dengan tuntutan mutu akreditasi.

Ade Gunawan menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berkewajiban mentransfer pengetahuan, tetapi juga mengoptimalkan aset yang dimiliki oleh masyarakat untuk mendorong pemberdayaan berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan standar akreditasi yang menuntut kegiatan pengabdian memiliki dampak terukur dan mampu menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai mitra. Ia juga menegaskan pentingnya kegiatan survei lapangan yang terstruktur dalam menghasilkan data yang valid sebagai dasar perumusan program pengabdian.

Selain Ade Gunawan, hadir pula Dr. Nur Kafid, M.Sc, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Ia menyampaikan materi mengenai teknik menyusun artikel pengabdian serta monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengabdian. Dalam pemaparannya, Dr. Nur Kafid menekankan bahwa publikasi ilmiah hasil pengabdian menjadi salah satu indikator penting dalam akreditasi program studi dan institusi, sehingga dosen perlu memiliki kemampuan menulis artikel metodologis yang memenuhi standar akademik.

Dr. Nur Kafid juga menyoroti pentingnya sistem monitoring dan evaluasi yang sistematis dalam memastikan efektivitas program pengabdian. Menurutnya, kegiatan pengabdian tidak hanya dinilai dari output, tetapi dari proses implementasi, keberlanjutan, serta dampaknya terhadap masyarakat. Ia mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan instrumen evaluasi berbasis data yang dapat mendukung pelaporan akreditasi secara lebih akuntabel.

Narasumber ketiga dari UIN Gus Dur adalah Syamsul Bakhri, M.Sos, yang memberikan materi mengenai kontrak forum, diskusi hasil survei, dan refleksi program pengabdian. Ia menjelaskan bahwa kontrak forum menjadi wadah untuk menyamakan persepsi antara tim pengabdian dan masyarakat mitra sebelum program dilaksanakan. Hal ini memastikan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari perspektif akademik, tetapi juga dari penerimaan dan kebutuhan masyarakat.

Syamsul Bakhri juga memfasilitasi sesi refleksi berbasis hasil survei lapangan, di mana peserta diajak untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta peluang pengembangan program pengabdian. Sesi tersebut dinilai memberikan wawasan strategis bagi peserta dalam menyempurnakan desain kegiatan yang akan diimplementasikan. Pendekatan reflektif ini menjadi salah satu praktik baik yang mendukung peningkatan mutu pengabdian sesuai tuntutan akreditasi.

Seluruh rangkaian kegiatan FGD berlangsung secara interaktif dan memperoleh apresiasi tinggi dari peserta. Kolaborasi materi dari ketiga narasumber memberikan gambaran utuh mengenai pentingnya metodologi pengabdian yang komprehensif, mulai dari pemetaan aset hingga pelaporan dan publikasi. Para peserta menilai bahwa kegiatan ini sangat relevan dalam meningkatkan kapasitas mereka untuk menyusun program pengabdian yang berkualitas dan sesuai dengan standar akreditasi nasional.

Dengan keterlibatan aktif para dosen UIN Gus Dur dalam kegiatan FGD tingkat nasional ini, FEBI UIN Gus Dur kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan mutu tridharma perguruan tinggi. Partisipasi mereka tidak hanya memperkuat jejaring akademik, tetapi juga menjadi bukti kontribusi nyata dalam upaya pencapaian Akreditasi Unggul di lingkungan UIN Gus Dur maupun institusi mitra. Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi UIN Gus Dur sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada mutu, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis keilmuan.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Ade Gunawan, M.M.

Jambi (12/11) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik lintas perguruan tinggi. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan FEBI UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Kesepakatan tersebut dilakukan langsung oleh Dekan FEBI UIN Gus Dur, Dr. H. AM. Muh Khafidz Ma’shum, M.Ag., bersama Dekan FEBI UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Dr. Rafidah, S.E., M.E.I., CCIB., pada hari Rabu, 12 November 2025 di Auditorium Utama UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian The First International Conference on Islamic Economics and Business 2025.

Penandatanganan MoA ini menjadi momentum penting bagi kedua fakultas dalam memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kerja sama ini, kedua pihak bersepakat untuk mengembangkan berbagai program kolaboratif, di antaranya pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan riset bersama, seminar dan konferensi ilmiah, serta publikasi karya ilmiah di jurnal terakreditasi nasional maupun internasional.

Dalam sambutannya, Dr. H. AM. Muh Khafidz Ma’shum, M.Ag.,  menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperluas jejaring akademik FEBI UIN Gus Dur di tingkat nasional maupun internasional. “Penandatanganan MoA ini bukan hanya seremoni administratif, tetapi menjadi wujud nyata dari komitmen kami untuk membangun sinergi akademik yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat memperkuat peran FEBI dalam pengembangan ekonomi dan bisnis Islam yang relevan dengan tantangan global,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dr. Khafidz menambahkan bahwa kerja sama tersebut juga merupakan bagian dari upaya FEBI UIN Gus Dur Pekalongan dalam mendukung visi universitas menuju akreditasi unggul. Kolaborasi dengan berbagai institusi Islam di Indonesia dinilai sebagai langkah konkret untuk memperkuat capaian mutu akademik, penelitian terapan, serta kontribusi nyata terhadap masyarakat.

Sementara itu, Dr. Rafidah, selaku Dekan FEBI UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, menyambut positif inisiatif kerja sama ini. Ia menyatakan bahwa MoA tersebut membuka ruang bagi kedua fakultas untuk saling berbagi pengalaman, keahlian, dan sumber daya dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan ekonomi Islam. “Kami meyakini, kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap isu-isu kontemporer ekonomi syariah serta mendorong riset yang berdampak bagi masyarakat. Semoga kerja sama ini menjadi langkah awal menuju ekosistem akademik yang kolaboratif, inovatif, dan produktif,” jelasnya.

Selain penandatanganan MoA, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi akademik antara kedua dekan beserta jajaran dosen dan peneliti. Dalam forum tersebut, berbagai ide kolaboratif mengemuka, termasuk rencana penyelenggaraan joint research tentang inklusi keuangan syariah di daerah, pengembangan pusat kajian ekonomi Islam, serta pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan UMKM syariah.

Acara berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan dihadiri oleh peserta konferensi internasional, civitas akademika UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, serta perwakilan FEBI UIN Gus Dur Pekalongan. Kedua fakultas juga saling bertukar cinderamata sebagai simbol persahabatan dan harapan akan kolaborasi yang berkelanjutan.

Dengan ditandatanganinya MoA ini, FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan FEBI UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi meneguhkan komitmen untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis Islam yang berdaya saing global. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menciptakan jejaring akademik Islami yang sinergis, berorientasi pada mutu, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M.