Bandung (23/11) - Pondok Pesantren Baitul Hidayah menyelenggarakan Sarasehan Ilmiah Wakaf dengan tema “Dari Aset ke Amal: Sinergi Pesantren dengan Wakaf Menuju Kemandirian dan Inovasi” pada hari Ahad, 23 November 2025, yang menghadirkan para tokoh akademisi nasional dan internasional serta praktisi wakaf nasional. Acara ini bertujuan memperluas wawasan para pegiat wakaf, pengelola pesantren, serta masyarakat mengenai strategi transformasi aset wakaf agar mampu meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan Islam.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Mustofa Dasuki Kasbah selaku akademisi internasional menjadi pembicara utama yang menyampaikan perspektif teoritis dan konseptual mengenai peran strategis wakaf dalam pembangunan pendidikan berbasis pesantren. Ia menegaskan bahwa wakaf bukan hanya instrumen ibadah sosial, tetapi juga pondasi ekonomi yang mampu menggerakkan pembangunan berkelanjutan jika dikelola secara modern dan profesional.
Selain itu, K.H. Anang Rikza Masyhadi, Ph.D., praktisi wakaf sekaligus pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang, membagikan pengalaman konkret pengelolaan wakaf produktif yang telah berhasil di lembaganya. Ia menekankan pentingnya inovasi dalam memanfaatkan aset wakaf, mulai dari pengembangan unit usaha, diversifikasi model bisnis, hingga penguatan ekosistem ekonomi pesantren agar mandiri tanpa bergantung pada donasi rutin.
Sebagai narasumber pembanding, Muhammad Shulthoni, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, memberikan ulasan kritis dan analitis terhadap paparan kedua narasumber sebelumnya. Ia menggarisbawahi perlunya integrasi ilmu akademik dan praktik di lapangan agar pengembangan wakaf pesantren tidak berhenti pada konsep ideal, tetapi mampu diwujudkan melalui tata kelola yang transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.

Dalam pandangannya, Muhammad Shulthoni menilai bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan ekosistem wakaf karena kedekatannya dengan masyarakat serta jaringan alumni yang luas. Namun, ia menegaskan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen keuangan syariah, pengelolaan aset, serta pemanfaatan teknologi agar wakaf dapat menjadi pengungkit ekonomi yang berdaya saing.
Sarasehan yang berlangsung interaktif tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari alumni pesantren, pengurus pesantren, akademisi, dan pegiat wakaf dari berbagai daerah sekitar Kota Bandung. Diskusi berkembang mulai dari isu kelembagaan, strategi pemberdayaan aset, hingga pentingnya sinergi antara pesantren, kampus, dan lembaga nadzir agar program-program wakaf produktif dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang.
Pada akhir acara, pimpinan Pondok Pesantren Baitul Hidayah, K.H. Iwan Sofyan Andi, M.Si. menyampaikan harapan agar sarasehan ini menjadi momentum awal terciptanya kolaborasi yang lebih kuat dalam pengembangan wakaf pesantren. Dengan sinergi yang baik antara teori, praktik, serta kritik konstruktif dari para ahli, pesantren diyakini dapat berkembang menjadi lembaga yang mandiri, inovatif, dan berkontribusi lebih luas bagi pembangunan ekonomi umat.
