FEBI

FEBI

Kajen (24/10) - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan sekaligus Kaprodi Bisnis Digital, Versiandika Yudha Pratama, M.M., menjadi narasumber dalam kuliah tamu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan bertajuk “Smart Financial Planning for Muslim Entrepreneurs in the Digital Era” ini dilaksanakan pada hari Jumat, 24 Oktober 2025, bertempat di Auditorium Lantai 4 FEBI IAIN Ponorogo  sebagai upaya peningkatan mutu akademik serta penguatan indikator akreditasi melalui kegiatan kolaboratif antarperguruan tinggi Islam.

Acara diikuti oleh sekitar 200 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Bisnis Syariah (MBS) yang tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan dari awal hingga akhir. Kuliah tamu ini dipandu oleh moderator Khoirun Ni’am, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) MBS, yang dengan piawai memandu diskusi akademik secara interaktif dan produktif.

Dalam pemaparannya, Versiandika Yudha Pratama, M.M., menegaskan bahwa perencanaan keuangan cerdas (smart financial planning) merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu, khususnya bagi wirausahawan muslim yang berkiprah di era digital. Ia menjelaskan, “Keuangan yang sehat tidak hanya dilihat dari seberapa besar penghasilan yang diperoleh, tetapi bagaimana seseorang mampu mengelola pendapatannya secara bijak, terarah, dan berorientasi pada keberlanjutan.”

Lebih lanjut, Versiandika memaparkan materi bertajuk “Smart Financial Planning for Better Future” yang menekankan pentingnya membangun mindset keuangan sehat sebagai fondasi menuju masa depan yang stabil. Menurutnya, langkah pertama dalam perencanaan keuangan bukanlah investasi, tetapi kesadaran dan perubahan pola pikir terhadap nilai uang, pengelolaan pengeluaran, serta disiplin dalam menabung.

Ia kemudian memperkenalkan konsep empat pilar dasar keuangan sehat, yaitu: (1) menghasilkan pendapatan (2) cash flow management, (3) menyisihkan tabungan – dana darurat dan (4) melakukan investasi produktif. Keempat pilar tersebut, lanjutnya, merupakan kerangka strategis yang harus dipahami dan diterapkan oleh wirausahawan agar mampu bertahan menghadapi dinamika ekonomi digital yang kompetitif.

Selain itu, Versiandika juga menyoroti pentingnya beralih dari sekadar memiliki mindset sehat menuju tahap productive investment. Dalam konteks ini, ia mengajak mahasiswa untuk mulai memahami instrumen keuangan syariah, seperti Saham, Obligasi, dan Reksa Dana. “Investasi produktif bukan berarti spekulasi, melainkan bagaimana uang yang dimiliki bekerja untuk menciptakan nilai dan manfaat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta. Beberapa mahasiswa menanyakan tentang strategi mengelola keuangan di tengah pendapatan yang fluktuatif, tips menghindari gaya hidup konsumtif, hingga rekomendasi instrumen investasi halal bagi pemula. Versiandika merespons dengan pendekatan kontekstual, menekankan pentingnya literasi keuangan dan konsistensi perilaku ekonomi berbasis nilai-nilai Islam.

Dalam refleksi penutupnya, Versiandika Yudha Pratama, M.M., mengapresiasi semangat akademik mahasiswa MBS yang aktif dan terbuka terhadap gagasan baru. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat memperluas wawasan keuangan mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia bisnis yang menuntut kecerdasan finansial, integritas moral, serta pemanfaatan teknologi digital secara etis.

Kegiatan kuliah tamu ini tidak hanya memberikan wawasan konseptual, tetapi juga memperkuat kolaborasi akademik antarperguruan tinggi Islam, khususnya antara FEBI UIN Gus Dur dan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Sinergi ini menjadi bagian dari implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam peningkatan mutu akademik dan penguatan akreditasi, dengan menegaskan komitmen FEBI UIN Gus Dur dalam mendukung kegiatan ilmiah lintas institusi sebagai wujud kontribusi nyata terhadap pengembangan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis Islam di Indonesia.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Versiandika Yudha Pratama, M.M.

Kajen (28/10) -  Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menutup kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Review Rencana Induk Pengembangan (RIP), Rencana Strategis (Renstra), Rencana Operasional (Renop), dan Penyusunan Indikator Kinerja pada Senin malam (28/10) di Hotel Santika, Semarang. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari sejak 26 Oktober ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting bagi arah pengembangan universitas di masa mendatang.

Rektor Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., dalam penutupan kegiatan, menyampaikan bahwa hasil diskusi dan masukan dari para peserta akan menjadi dasar yang kuat bagi penyusunan dokumen perencanaan universitas yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.

“FGD ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan proses strategis untuk memastikan setiap langkah pengembangan universitas memiliki arah yang jelas dan terukur. Kita ingin UIN Gus Dur menjadi kampus Islam unggul, modern, dan berdaya saing global,” ungkapnya.

Kegiatan yang diikuti oleh 58 peserta tersebut melibatkan jajaran pimpinan universitas mulai dari unsur rektorat, dekanat, direktorat, lembaga, hingga unit pelaksana teknis di lingkungan UIN Gus Dur. Selama pelaksanaan, para peserta aktif memberikan kontribusi dalam merumuskan langkah-langkah penguatan tata kelola, indikator kinerja utama, dan target operasional universitas.

Pada hari kedua, kegiatan dibagi menjadi dua komisi. Komisi pertama berfokus pada pembahasan dan peninjauan ulang rancangan Rencana Strategis (Renstra), sementara komisi kedua menyusun indikator kinerja utama dan turunannya sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan program universitas.

Kegiatan FGD ini secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag., yang menekankan pentingnya dokumen RIP, Renstra, dan Renop sebagai panduan arah pembangunan institusi ke depan. “Penyusunan dokumen perencanaan ini merupakan kompas bagi kampus kita dalam mewujudkan visi, misi, serta arah strategis pengembangan UIN Gus Dur Pekalongan di masa mendatang,” tutur beliau dalam sambutannya.

Sebagai bagian dari unsur dekanat yang turut serta, Pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Gus Dur yang terdiri Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag., Dr. Kuat Ismanto, M.Ag., Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M. dan H. M. Shulthoni, M.S.I.,Ph.D., menyampaikan bahwa keterlibatan aktif fakultas dalam kegiatan FGD ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap penguatan arah kebijakan universitas. “Bagi FEBI, penyusunan RIP, Renstra, dan Renop menjadi kesempatan strategis untuk memastikan visi fakultas selaras dengan visi besar universitas. Dokumen-dokumen tersebut akan menjadi pijakan penting dalam meningkatkan mutu akademik, tata kelola, serta pencapaian akreditasi unggul di tingkat program studi,” ujar perwakilan pimpinan FEBI.

Lebih lanjut, Pimpinan FEBI juga menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi seluruh unit kerja di universitas untuk menyatukan langkah dalam membangun budaya perencanaan yang berbasis data dan kinerja. “Keterpaduan antara kebijakan universitas dan fakultas akan mempercepat pencapaian target strategis. Kami berharap hasil FGD ini tidak berhenti pada dokumen, tetapi terimplementasi dalam setiap aspek akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” tambahnya.

Dengan selesainya kegiatan FGD ini, UIN Gus Dur meneguhkan komitmennya dalam memperkuat sistem perencanaan dan tata kelola kelembagaan yang berorientasi pada kualitas dan keberlanjutan, guna mewujudkan universitas Islam yang unggul, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M.

Kajen (24/10) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Perkuliahan Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 dengan para dosen pada hari Jumat, 24 Oktober 2025 melalui platform Zoom Meeting. Rapat ini menjadi bagian penting dalam siklus penjaminan mutu akademik yang berorientasi pada capaian indikator kinerja menuju akreditasi unggul.

Rapat dipimpin oleh Kepala Bagian Tata Usaha FEBI, Arif Rachman, M.Pd.I., yang dalam pengantarnya menegaskan bahwa pelaksanaan Monev ini merupakan sarana untuk memastikan implementasi kurikulum, efektivitas pembelajaran, dan kualitas layanan akademik berjalan sesuai standar nasional pendidikan tinggi.

Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag., dalam sambutan pembuka menyampaikan pentingnya Monev sebagai upaya berkelanjutan dalam penguatan tata kelola akademik. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga instrumen strategis untuk mencapai reputasi akademik yang semakin kompetitif melalui akreditasi unggul pada seluruh program studi.

Pada sesi akademik dan kelembagaan, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FEBI, Dr. Kuat Ismanto, M.Ag. menyampaikan arah kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk optimalisasi monitoring kehadiran dosen dan mahasiswa, inovasi metode pembelajaran berbasis teknologi, serta penyempurnaan dokumen pendukung akreditasi seperti RPS dan asesmen pembelajaran.

Selanjutnya, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan FEBI, Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M., menyoroti aspek administrasi umum, perencanaan, dan keuangan dalam mendukung operasional akademik. Ia menegaskan pentingnya alokasi anggaran yang efisien serta peningkatan layanan administrasi, termasuk dukungan terhadap kegiatan akademik, penelitian dosen, dan peningkatan fasilitas pembelajaran sesuai tuntutan akreditasi.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FEBI, H. M. Shulthoni, M.S.I.,Ph.D., menekankan strategi pengembangan bidang kemahasiswaan dan kerja sama. Ia menyampaikan bahwa penguatan peran organisasi mahasiswa, peningkatan prestasi mahasiswa, serta perluasan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra eksternal merupakan faktor penting dalam pemenuhan indikator kinerja akreditasi.

Dalam sesi penyampaian laporan masing-masing Program Studi, para Ketua Program Studi menguraikan hasil evaluasi yang dihimpun dari aspirasi mahasiswa terkait proses perkuliahan. Beberapa isu yang mengemuka antara lain efektivitas perkuliahan daring-luring (hybrid), kebutuhan peningkatan kompetensi digital dosen, penyempurnaan layanan bimbingan akademik, serta fasilitas penunjang pembelajaran yang lebih representatif.

Diskusi interaktif dan tanya jawab berlangsung produktif antara pimpinan fakultas, kaprodi, dan peserta rapat. Seluruh masukan dan kritik yang disampaikan menjadi bahan refleksi bersama untuk penyusunan langkah strategis perbaikan berkelanjutan, terutama dalam menanggapi dinamika kebutuhan mahasiswa dan tantangan perkembangan pendidikan tinggi.

Sebagai penutup, rapat Monev ini menegaskan kembali komitmen FEBI UIN Gus Dur untuk terus bergerak adaptif dalam meningkatkan mutu tridharma perguruan tinggi. Evaluasi sistematis yang dilakukan setiap semester menjadi landasan penting dalam mewujudkan visi fakultas sebagai pusat pendidikan ekonomi dan bisnis Islam yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi signifikan pada pembangunan nasional serta mutu akreditasi yang semakin baik.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Qorry Aina Fitroh, M.Kom.

Kajen (22/10) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menyelenggarakan Workshop Penjaminan Mutu Internal Menuju Akreditasi Unggul pada hari Rabu, 22 Oktober 2025, bertempat di Meeting Room lantai 3. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si. dari Universitas Tidar (Untidar) Magelang, dengan moderator Devi Arisandi, M.M. Workshop ini merupakan bagian dari upaya strategis FEBI dalam memperkuat sistem penjaminan mutu internal guna meraih predikat akreditasi unggul bagi seluruh program studi di bawah naungan LAM EMBA.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada narasumber atas kesediaannya hadir serta berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait strategi menuju akreditasi unggul. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya sinergi seluruh unsur sivitas akademika dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi. “Capaian akreditasi unggul bukan hanya sekadar target administratif, tetapi juga refleksi komitmen institusi terhadap kualitas pembelajaran dan tata kelola akademik yang berkelanjutan,” ujarnya.

Workshop ini dihadiri oleh pimpinan FEBI, ketua dan sekretaris program studi serta Unit Penjaminan Mutu (UPM) dan Gugus Penjaminan Mutu (GPM). Adapun empat program studi yang mengikuti kegiatan ini meliputi Ekonomi Syariah, Akuntansi Syariah, Perbankan Syariah, dan Bisnis Digital. Keempat prodi tersebut berada di bawah pengawasan LAM EMBA, lembaga akreditasi mandiri yang menaungi bidang ekonomi, manajemen, bisnis, dan akuntansi.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Izza Mafruhah menyoroti poin-poin penting dalam proses akreditasi unggul, di antaranya tata kelola dan kepemimpinan yang efektif, mutu pembelajaran berbasis outcome-based education (OBE), keterlibatan stakeholder, serta keberlanjutan tridarma perguruan tinggi. Beliau menekankan pentingnya penyusunan dokumen eviden yang sistematis dan terukur, sebagai bukti nyata kinerja akademik dan non-akademik setiap program studi.

Lebih lanjut, narasumber juga menekankan perlunya membangun budaya mutu yang melekat di setiap lini kegiatan kampus. Menurutnya, akreditasi unggul tidak dapat dicapai hanya melalui pemenuhan dokumen semata, tetapi harus didukung oleh implementasi nyata dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Mutu itu harus menjadi kebiasaan, bukan hanya kegiatan temporer menjelang akreditasi,” tegas Prof. Izza.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung secara interaktif, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, terutama terkait strategi implementasi OBE, pelaporan luaran penelitian dosen, serta penguatan kerjasama dengan mitra eksternal. Narasumber memberikan tanggapan komprehensif dan praktis, yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi setiap prodi dalam menyiapkan instrumen akreditasi berbasis kinerja.

Moderator, Devi Arisandi, M.M., memandu jalannya diskusi dengan dinamis, memastikan setiap sesi berjalan efektif dan menghasilkan rekomendasi yang konstruktif. Ia juga menekankan pentingnya tindak lanjut dari kegiatan ini melalui rapat koordinasi internal masing-masing prodi dan unit penjaminan mutu untuk memastikan hasil workshop dapat diimplementasikan secara konkret.

Kegiatan workshop diakhiri dengan penyerahan cenderamata kepada narasumber dan foto bersama seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan FEBI semakin siap menghadapi proses akreditasi dengan semangat kolaboratif dan berorientasi mutu. Workshop ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan visi FEBI sebagai fakultas yang unggul, berdaya saing, dan berintegritas tinggi dalam pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis Islam di tingkat nasional maupun internasional.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Qorry Aina Fitroh, M.Kom.

Kajen (20/10) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan Diskusi Publik pada pada hari Senin, 20 Oktober 2025 bertempat di Meeting Room FEBI. Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, para ketua program studi (kaprodi), pengurus organisasi mahasiswa (ormawa), serta perwakilan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FEBI. Forum ini menjadi ajang komunikasi strategis untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi akademik dalam rangka mendukung pencapaian akreditasi unggul.

Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Dekan FEBI, Dr. H. A.M. Muh. Khafidz MS, M.Ag., yang membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus ormawa dan unsur mahasiswa yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Menurut Dr. Khafidz, forum diskusi ini merupakan ruang penting untuk mendengarkan aspirasi mahasiswa sekaligus menyamakan persepsi antara pihak pengelola fakultas dan civitas akademika dalam menjalankan visi akademik dan kelembagaan.

“Forum ini sangat berharga dan penting bagi kita semua. Mohon maaf seluruh pimpinan tidak dapat hadir karena ada rapat di Kampus 1 Kusuma Bangsa. Namun, semangat kebersamaan dan komunikasi tetap harus kita jaga. Kita harus saling memahami, saling berkoordinasi, dan menyeimbangkan setiap harapan agar tercapai tujuan bersama,” ujar Dr. Khafidz dalam sambutannya yang disambut penuh perhatian oleh peserta.

Dalam penjelasannya, Dekan menegaskan bahwa dosen dan pengelola fakultas memiliki peran ganda, tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing moral dan spiritual bagi mahasiswa. “Sebagai dosen sekaligus pengelola, kami adalah orang tua saudara ketika berada di kampus. Kami diberikan amanah untuk membina baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Kami akan sangat bahagia apabila para mahasiswa FEBI sukses dan berhasil dalam menempuh studinya,” tambahnya dengan penuh empati.

Dr. Khafidz juga menyoroti keberadaan FEBI di Kampus 1 Kusuma Bangsa yang menurutnya memerlukan perhatian besar. Beliau menjelaskan bahwa jumlah mahasiswa FEBI di kampus tersebut setara dengan satu jurusan pada masa STAIN Pekalongan, sehingga diperlukan langkah strategis dalam hal pemenuhan sarana, prasarana, laboratorium dan peningkatan layanan akademik. Hal ini menjadi bagian dari upaya penguatan mutu lembaga yang selaras dengan tuntutan akreditasi nasional.

Sebagai tindak lanjut dari perencanaan kelembagaan, Dekan menyampaikan bahwa pihak fakultas telah menyusun sejumlah dokumen kebutuhan yang akan dipenuhi pada tahun 2026. Dokumen tersebut mencakup peningkatan fasilitas, pembaruan kurikulum, dan penguatan tata kelola akademik sebagai bagian dari komitmen FEBI dalam menjawab kebutuhan sivitas akademika sekaligus mendukung pencapaian akreditasi unggul.

Kegiatan diskusi ini dipandu oleh Arman Maulana Ishak, mahasiswa Program Studi Akuntansi Syariah, yang bertindak sebagai moderator. Dengan gaya penyampaian yang tenang dan komunikatif, Arman berhasil menjaga jalannya diskusi tetap dinamis dan fokus pada isu-isu strategis yang diangkat mahasiswa. Forum berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta terkait sarana dan prasarana, kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, serta arah pengembangan fakultas.

Menanggapi beragam pertanyaan tersebut, para pimpinan fakultas memberikan jawaban yang komprehensif dan argumentatif dengan gaya akademis. Mereka menegaskan bahwa setiap masukan mahasiswa akan menjadi bahan evaluasi dalam perencanaan kebijakan berikutnya. Pendekatan ilmiah dan profesional yang digunakan para pimpinan memperlihatkan komitmen fakultas dalam menerapkan prinsip good faculty governance berbasis transparansi dan partisipasi sivitas akademika.

Melalui kegiatan Diskusi Publik ini, FEBI UIN Gus Dur kembali menegaskan tekadnya untuk terus memperkuat sinergi antara mahasiswa, dosen, dan pengelola dalam mewujudkan sistem akademik yang berkualitas dan inklusif. Forum tersebut tidak hanya menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi, tetapi juga simbol kolaborasi menuju penguatan akreditasi unggul yang berlandaskan integritas, profesionalitas, dan semangat kebersamaan.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : H. M. Shulthoni, M.S.I.,Ph.D.

Pekalongan (22/10) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan mutu akademik melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyusunan Dokumen Borang Akreditasi Program Studi Informatika”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Oktober 2025, bertempat di Gedung B UIN Gus Dur, dengan menghadirkan narasumber utama Agustinus Eko Setiawan, M.Kom beserta timnya, yakni Tahta Herdian Andika, M.T.I., dan Fahlul Rizki, M.T.I., dari Universitas Aisyah Pringsewu Lampung.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan FEBI, Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M., yang dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas kehadiran para narasumber dan tim penyusun borang. Ia menegaskan bahwa kegiatan FGD ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tata kelola akademik dan mempercepat proses penyusunan borang akreditasi yang akan disubmit pada bulan Januari mendatang. “Hari ini kita berkumpul dalam penyusunan borang Informatika. Di UIN Gus Dur, kita memiliki kapabilitas, kemampuan, manajemen, dan tata kelola yang baik. Namun tentu saja, keberhasilan ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak agar hasil yang diperoleh dapat maksimal,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Tamam juga menyoroti komposisi mahasiswa di lingkungan FEBI UIN Gus Dur yang menunjukkan dinamika menarik antara prodi-prodi humaniora dan sains. Menurutnya, rata-rata 90 persen mahasiswa di bidang humaniora berjenis kelamin perempuan, sedangkan di Program Studi Informatika, sekitar 80 persen mahasiswa merupakan laki-laki. Fakta ini menunjukkan keberagaman minat dan potensi akademik di lingkungan kampus yang perlu dikelola dengan baik untuk memperkuat sinergi antarprogram studi.

Sementara itu, Ketua Program Studi Informatika, Muhammad Rikzam Kamal, M.Kom, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim narasumber dan penyusun borang akreditasi yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan pendampingan teknis serta evaluasi mendalam terhadap dokumen akreditasi yang sedang disusun. “Kami mengucapkan terima kasih kepada tim dari Universitas Aisyah Pringsewu yang telah hadir dan memberikan kontribusi nyata dalam proses bedah borang. Semoga kerja sama ini mampu menghasilkan penyusunan borang yang lebih komprehensif dan sesuai standar,” ujarnya.

Rikzam menambahkan bahwa keterlibatan berbagai unsur, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, merupakan kunci utama dalam proses penjaminan mutu akademik. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pemenuhan administratif, melainkan juga refleksi atas capaian akademik, tata kelola, serta strategi pengembangan prodi di masa mendatang. “Kami berupaya memastikan setiap aspek yang tercantum dalam borang benar-benar mencerminkan kualitas dan semangat akademik di lingkungan Informatika FEBI UIN Gus Dur,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Agustinus Eko Setiawan, M.Kom, selaku narasumber utama, menyampaikan apresiasinya kepada pihak fakultas yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan bagi timnya untuk berkontribusi dalam kegiatan ini. “Kami berterima kasih kepada Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan Bapak Dr. Tamam dan Kaprodi Informatika Bapak Rikzam yang telah mengundang kami. Alhamdulillah, Program Studi Informatika di kampus kami berhasil meraih akreditasi ‘Baik Sekali’ meskipun belum memiliki lulusan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga yang ingin kami bagikan di sini,” ungkapnya.

Agustinus juga menegaskan pentingnya pelibatan mahasiswa secara aktif dalam proses penyusunan dan pengumpulan data akreditasi. Menurutnya, mahasiswa bukan hanya objek dari proses pendidikan, tetapi juga bagian integral dalam penguatan kualitas akademik dan penjaminan mutu. “Kami berharap dengan keterlibatan mahasiswa dalam diskusi dan persiapan data, proses akreditasi di Informatika UIN Gus Dur dapat berjalan lancar dan menghasilkan capaian terbaik,” ujarnya.

Kegiatan FGD ini berlangsung dengan suasana akademik yang dinamis, ditandai dengan diskusi konstruktif dan pertukaran ide antara narasumber, dosen, dan tim penyusun borang. Setiap sesi diisi dengan telaah mendalam terhadap instrumen akreditasi, penyesuaian data kinerja, serta strategi perbaikan berkelanjutan sesuai pedoman Outcome-Based Education (OBE). Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan Program Studi Informatika FEBI UIN Gus Dur semakin siap menghadapi proses akreditasi dengan hasil yang optimal serta mampu menunjukkan keunggulan dalam tata kelola, mutu akademik, dan relevansi keilmuan di era digital.

Penulis             : Nuzulul

Editor              : Muhammad Rikzam Kamal, M.Kom.

Kajen (15/10) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar kegiatan ilmiah Dissertation on Stage secara daring melalui Zoom, Rabu (15/10/2025). Acara ini diikuti oleh para pimpinan fakultas, ketua program studi, serta dosen dari berbagai bidang keilmuan di lingkungan FEBI. Dalam kegiatan tersebut, Dr. H. Ahmad Rosyid, S.E., M.Si., Akt., memaparkan disertasi bertema: “Peran Sinisme Bawahan dalam Memediasi Pengaruh Kepemimpinan Paternalistik terhadap Intensi Whistleblowing.” Tema ini mencerminkan upaya akademik untuk memahami dinamika relasi kekuasaan dalam organisasi, sekaligus menelaah bagaimana persepsi negatif terhadap pimpinan dapat memicu atau justru menghambat keberanian untuk melaporkan penyimpangan atau pelanggaran di lingkungan kerja.

Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz MS, M.Ag., dalam sambutannya menyatakan bahwa tema yang diangkat merupakan “menu terbaru” dalam diskursus akademik FEBI, sekaligus menjadi bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan budaya ilmiah yang berdampak langsung terhadap tata kelola institusi. Ia berharap, diskusi semacam ini tidak berhenti sebagai wacana, melainkan dapat diintegrasikan dalam strategi manajerial dan penjaminan mutu fakultas.

“Tema ini sangat relevan dengan semangat transparansi dan akuntabilitas yang kini menjadi bagian penting dalam proses akreditasi. Penguatan tata kelola tidak cukup hanya dengan sistem, tapi juga membutuhkan kesadaran kolektif dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan terbuka,” ujar Dr. Khafidz di hadapan peserta yang hadir.

Dalam presentasinya, Dr. Rosyid menjelaskan bahwa kepemimpinan paternalistik, yang bercirikan kedekatan emosional dan perlindungan terhadap bawahan, memiliki dua sisi. Jika tidak diimbangi dengan prinsip keterbukaan, gaya kepemimpinan ini dapat menimbulkan sinisme bawahan sebuah bentuk kekecewaan atau ketidakpercayaan terhadap pimpinan yang pada gilirannya dapat memediasi kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan konteks akreditasi, di mana keberadaan sistem pelaporan internal yang efektif dan budaya organisasi yang suportif menjadi indikator penting dalam penilaian institusi. Melalui disertasi ini, terungkap bahwa organisasi yang mampu mengelola sinisme secara konstruktif justru dapat menciptakan ruang yang mendorong perilaku pelaporan demi perbaikan dan integritas kelembagaan.

Sesi tanya jawab berjalan dinamis, dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang menyoroti praktik implementasi kepemimpinan di lingkungan akademik, serta tantangan dalam membangun kepercayaan antara pimpinan dan staf.

Diskusi menghangat ketika Guru Besar FEBI, Prof. Dr. Hj. Susminingsih, M.Ag., mengajukan pertanyaan reflektif tentang pendekatan religiusitas dalam riset organisasi. “Apakah dimensi religiusitas dapat didekati secara kuantitatif agar lebih diterima di pasar akademik dan praktisi, mengingat konsep sinisme dan whistleblowing belum sepenuhnya diterima dalam budaya organisasi kita?” tuturnya. Pertanyaan ini membuka diskursus penting tentang integrasi nilai religius dan metodologi ilmiah dalam riset sosial, memperluas perspektif akademik forum tersebut.

Dr. Rosyid menanggapi bahwa integrasi variabel religiusitas dalam penelitian perilaku organisasi menjadi tantangan menarik, terutama untuk memperluas daya terima hasil riset di ranah praktis dan akademis. Disertasi ini juga menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara pendekatan humanis dan sistem kontrol formal dalam kepemimpinan. Keberhasilan akreditasi institusi, sebagaimana ditegaskan oleh narasumber, bukan semata hasil dokumentasi administratif, melainkan cerminan dari budaya organisasi yang bersih, partisipatif, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Melalui Dissertation on Stage, FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menegaskan perannya sebagai ruang ilmiah yang tidak hanya membedah karya akademik, tetapi juga menumbuhkan budaya reflektif dan transparan — nilai-nilai yang menjadi fondasi tata kelola perguruan tinggi modern.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Qorry Aina Fitroh, M.Kom.

Kajen (17/10) - Dalam suasana santai namun penuh makna akademik, Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz, M.S., M.Ag., bersama Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Kuat Ismanto, M.Ag., mengadakan diskusi ringan dengan narasumber Wahyono, S.Kom., Ph.D., dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di ruang Dekan. Diskusi ini berlangsung sebelum kegiatan Workshop Artificial Intelligence (AI) Bidang Akademik di Meeting Room lantai 3 FEBI, Jum’at, 17 Oktober 2025 dan membahas peran serta dampak AI dalam dunia pendidikan tinggi Islam.

Dalam perbincangan tersebut, Wahyono menyoroti potensi besar AI sebagai transformative tool dalam bidang akademik, mulai dari efisiensi administrasi hingga peningkatan kualitas riset dan pembelajaran. Ia menekankan bahwa AI bukan sekadar teknologi, tetapi juga paradigma baru dalam berpikir dan beradaptasi. “AI bekerja dengan meniru cara manusia memahami, mempelajari, dan mengambil keputusan berbasis data. Oleh karena itu, dosen perlu menempatkan AI sebagai mitra intelektual, bukan ancaman bagi integritas akademik,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Khafidz menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus sejalan dengan visi FEBI dalam mencetak akademisi yang unggul dan berkarakter Islami. Menurutnya, integrasi teknologi digital perlu diimbangi dengan nilai-nilai etika dan keilmuan agar tidak hanya menghasilkan efisiensi, tetapi juga menjaga marwah keilmuan Islam. “FEBI berkomitmen untuk terus memperkuat literasi digital para dosen dan mahasiswa, karena akreditasi unggul tidak hanya ditentukan oleh dokumen, tetapi juga oleh kesiapan adaptasi terhadap perubahan teknologi,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Kuat Ismanto menambahkan bahwa diskusi seperti ini menjadi refleksi penting dalam mengembangkan kurikulum dan budaya akademik di FEBI. AI, menurutnya, dapat menjadi instrumen pendukung dalam sistem penjaminan mutu, pengelolaan data akademik, dan analisis capaian pembelajaran. “Keterbukaan terhadap inovasi perlu disertai kemampuan kritis untuk menilai manfaat dan risikonya. Dengan begitu, AI dapat menjadi sarana strategis dalam penguatan mutu akademik dan keberlanjutan akreditasi,” tutupnya.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Qorry Aina Fitroh, M.Kom.

Kajen (17/10) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menyelenggarakan Workshop Artificial Intelligence (AI) Bidang Akademik pada hari Jum’at, 17 Oktober 2025 bertempat di Meeting Room lantai 3 FEBI. Kegiatan ini diikuti oleh para dosen FEBI sebagai upaya peningkatan kapasitas akademik dalam menghadapi era digital dan mendukung peningkatan mutu kelembagaan.

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FEBI, Dr. H. AM. Muh. Khafidz, M.Ag., yang dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber, moderator, serta seluruh peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil perencanaan panjang sejak tahun 2024. “Pada pertengahan Januari 2025 sempat dilakukan efisiensi anggaran, dan baru pada bulan Juli terjadi relaksasi, sehingga Alhamdulillah kegiatan ini akhirnya bisa terlaksana,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dekan FEBI menegaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini membawa banyak perubahan positif yang menjadikan berbagai aktivitas lebih efisien, sederhana, dan praktis. Namun, kemajuan tersebut juga menuntut kesiapan para akademisi untuk beradaptasi secara cepat dan efektif. “Para dosen harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan bahkan harus lebih maju dibandingkan mahasiswa agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman,” tegasnya.

Workshop menghadirkan narasumber Wahyono, S.Kom., Ph.D., dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang menyampaikan materi tentang konsep dasar dan penerapan Artificial Intelligence dalam bidang akademik. Dalam paparannya, Wahyono menjelaskan bahwa AI atau Akal Imitasi merupakan sistem yang meniru kemampuan berpikir manusia, baik kemampuan umum maupun kemampuan seorang pakar (expert). “AI bekerja dengan mengidentifikasi, mempelajari, dan memprediksi pola-pola dari data yang tersedia, tergantung pada kualitas data dan alat bantu yang digunakan,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa perkembangan AI kini sudah tidak bisa dibendung seiring dengan pesatnya kemajuan internet, media sosial, dan berbagai platform digital. “AI bukan sekadar tren teknologi, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem kehidupan dan pendidikan kita. Oleh karena itu, dosen dan akademisi harus aktif dalam memverifikasi, mengecek, serta memvalidasi data yang digunakan dalam penelitian dan pengajaran,” ungkapnya.

Menurut Wahyono, tantangan utama bukan pada kemampuan AI itu sendiri, tetapi pada bagaimana manusia mengelola dan memastikan keaslian data. Data yang kurang inovatif dan tidak orisinal akan menghasilkan analisis yang lemah dan menyesatkan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya etika, tanggung jawab, serta kepekaan akademik dalam pemanfaatan AI agar tidak menghilangkan esensi berpikir kritis dan kreativitas manusia.

Kegiatan ini dipandu oleh moderator Indra Kurniawan, M.Kom., dosen FEBI yang dikenal dengan gaya penyampaian akademis dan interaktif. Dalam sesi tanya jawab, para dosen aktif berdiskusi mengenai peluang dan tantangan penerapan AI dalam bidang akademik, seperti penggunaan AI dalam analisis data penelitian, evaluasi pembelajaran, hingga sistem penjaminan mutu. Diskusi yang dinamis tersebut memperkaya pemahaman peserta tentang pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai akademik.

Dengan terselenggaranya workshop ini, FEBI berharap para dosen dapat memanfaatkan teknologi AI secara optimal untuk mendukung proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Workshop ini menjadi salah satu langkah konkret FEBI dalam memperkuat kapasitas akademik dosen dan mendorong tercapainya visi fakultas menuju akreditasi unggul berbasis inovasi dan teknologi.

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Qorry Aina Fitroh, M.Kom.

Kajen (14/10) Dalam rangka mendukung peningkatan mutu lulusan sekaligus sebagai bagian dari implementasi Tracer Study dan penilaian akreditasi, Career Development Center (CDC) UIN Gus Dur menggelar kegiatan Training Softskill bertema “Communication, Career & Problem Solving” selama 2 hari, yaitu 13-14 Oktober 2025 di Fakultas Syariah. Kegiatan ini menjadi wahana strategis bagi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis islam untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dengan keterampilan non-teknis yang relevan dengan kebutuhan industri dan dunia profesional.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua CDC, Dr. Hj. Siti Mumun Muniroh, M.A., yang dalam sambutannya menekankan bahwa keberhasilan akademik harus diiringi dengan penguasaan softskill yang memadai. “Kita harus memiliki softskill yang dibutuhkan dalam dunia kerja dengan terus meng-upgrade diri. Dunia kerja menuntut bukan hanya kemampuan kognitif, tetapi juga kepribadian, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya lembaga dalam mendukung indikator akreditasi yang berorientasi pada kesiapan kerja lulusan.

Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan Muflikha Sabilla, S.Psi., M.Psi., Human Resource Hotel Howard Johnson Pekalongan, sebagai narasumber utama. Dalam materinya, Muflikha menyoroti pentingnya komunikasi efektif dan keterampilan menentukan skala prioritas dalam dunia kerja. Menurutnya, keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis, tetapi juga oleh kecakapan berkomunikasi dan pengelolaan waktu yang baik. “Komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan memahami konteks dan membangun relasi kerja yang produktif. Begitu juga menentukan prioritas, karena pekerjaan menuntut efisiensi dan ketepatan,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, seorang peserta dari FEBI bertanya, “Bagaimana cara membangun komunikasi yang profesional di lingkungan kerja yang penuh tekanan?” Muflikha menjawab bahwa kunci utama adalah mengelola emosi dan tetap fokus pada solusi. “Kita perlu memiliki emotional intelligence yang baik. Jangan reaktif, tapi responsif. Dalam komunikasi profesional, cara menyampaikan pesan lebih penting daripada seberapa keras kita berbicara,” jelasnya. Jawaban tersebut disambut dengan antusias oleh peserta yang aktif berdialog sepanjang sesi.

Hari kedua pelatihan menghadirkan M. Rizza Akbar, S.Psi., CPOD, Kepala Departemen Corporate Secretary, Protocoler and Stakeholder Management PT Kawasan Industri Terpadu Batang, yang mengupas pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Rizza menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi nilai tambah, melainkan kewajiban. “Kemampuan berbahasa Inggris itu kewajiban. Bahasa asing lainnya adalah kelebihan. Dengan kemampuan ini, kita lebih siap bersaing dan beradu dalam dunia kerja global,” tegasnya.

Selain membahas aspek komunikasi lintas budaya, Rizza juga menyoroti pentingnya personal branding melalui curriculum vitae (CV). Ia menjelaskan bahwa CV tidak semata-mata digunakan untuk melamar pekerjaan, melainkan sebagai cermin kompetensi diri. “CV menunjukkan siapa kita, apa yang kita kuasai, dan bagaimana kita berkembang. Maka buatlah CV dengan kesadaran profesional, bukan sekadar formalitas,” ujarnya. Pernyataan ini menginspirasi peserta untuk melihat CV sebagai media refleksi dan representasi diri yang strategis.

Pada sesi tanya jawab, seorang mahasiswa FEBI bertanya, “Apakah CV yang menarik harus penuh dengan pengalaman organisasi meskipun tidak relevan dengan bidang kerja yang dituju?” Rizza menanggapi bahwa seleksi konten menjadi hal penting dalam menulis CV. “Tampilkan pengalaman yang mencerminkan kemampuan adaptasi, kepemimpinan, dan problem solving. Relevansi dan kualitas pengalaman jauh lebih bermakna daripada sekadar kuantitas,” jawabnya. Ia juga menambahkan bahwa kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris perlu dilatih secara konsisten agar menjadi kebiasaan profesional.

Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan praktisi profesional, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga memahami praktik nyata yang terjadi di dunia kerja. Pendekatan experiential learning ini menjadi salah satu indikator penilaian akreditasi yang menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengembangan diri di luar perkuliahan.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, bahwa CDC UIN Gus Dur menunjukkan komitmen kuat dalam menyiapkan lulusan yang unggul, adaptif, dan kompetitif. Training Softskill “Communication, Career & Problem Solving” menjadi bukti nyata bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter dan kompetensi personal yang mendukung kesiapan kerja serta pencipta peluang dan pemimpin masa depan yang siap berkontribusi di berbagai bidang profesional.

 

Penulis             : Nuzulul.

Editor              : Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M.