Kajen (14/10) Dalam rangka mendukung peningkatan mutu lulusan sekaligus sebagai bagian dari implementasi Tracer Study dan penilaian akreditasi, Career Development Center (CDC) UIN Gus Dur menggelar kegiatan Training Softskill bertema “Communication, Career & Problem Solving” selama 2 hari, yaitu 13-14 Oktober 2025 di Fakultas Syariah. Kegiatan ini menjadi wahana strategis bagi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis islam untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dengan keterampilan non-teknis yang relevan dengan kebutuhan industri dan dunia profesional.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua CDC, Dr. Hj. Siti Mumun Muniroh, M.A., yang dalam sambutannya menekankan bahwa keberhasilan akademik harus diiringi dengan penguasaan softskill yang memadai. “Kita harus memiliki softskill yang dibutuhkan dalam dunia kerja dengan terus meng-upgrade diri. Dunia kerja menuntut bukan hanya kemampuan kognitif, tetapi juga kepribadian, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya lembaga dalam mendukung indikator akreditasi yang berorientasi pada kesiapan kerja lulusan.
Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan Muflikha Sabilla, S.Psi., M.Psi., Human Resource Hotel Howard Johnson Pekalongan, sebagai narasumber utama. Dalam materinya, Muflikha menyoroti pentingnya komunikasi efektif dan keterampilan menentukan skala prioritas dalam dunia kerja. Menurutnya, keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis, tetapi juga oleh kecakapan berkomunikasi dan pengelolaan waktu yang baik. “Komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan memahami konteks dan membangun relasi kerja yang produktif. Begitu juga menentukan prioritas, karena pekerjaan menuntut efisiensi dan ketepatan,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, seorang peserta dari FEBI bertanya, “Bagaimana cara membangun komunikasi yang profesional di lingkungan kerja yang penuh tekanan?” Muflikha menjawab bahwa kunci utama adalah mengelola emosi dan tetap fokus pada solusi. “Kita perlu memiliki emotional intelligence yang baik. Jangan reaktif, tapi responsif. Dalam komunikasi profesional, cara menyampaikan pesan lebih penting daripada seberapa keras kita berbicara,” jelasnya. Jawaban tersebut disambut dengan antusias oleh peserta yang aktif berdialog sepanjang sesi.

Hari kedua pelatihan menghadirkan M. Rizza Akbar, S.Psi., CPOD, Kepala Departemen Corporate Secretary, Protocoler and Stakeholder Management PT Kawasan Industri Terpadu Batang, yang mengupas pentingnya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Rizza menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi nilai tambah, melainkan kewajiban. “Kemampuan berbahasa Inggris itu kewajiban. Bahasa asing lainnya adalah kelebihan. Dengan kemampuan ini, kita lebih siap bersaing dan beradu dalam dunia kerja global,” tegasnya.
Selain membahas aspek komunikasi lintas budaya, Rizza juga menyoroti pentingnya personal branding melalui curriculum vitae (CV). Ia menjelaskan bahwa CV tidak semata-mata digunakan untuk melamar pekerjaan, melainkan sebagai cermin kompetensi diri. “CV menunjukkan siapa kita, apa yang kita kuasai, dan bagaimana kita berkembang. Maka buatlah CV dengan kesadaran profesional, bukan sekadar formalitas,” ujarnya. Pernyataan ini menginspirasi peserta untuk melihat CV sebagai media refleksi dan representasi diri yang strategis.
Pada sesi tanya jawab, seorang mahasiswa FEBI bertanya, “Apakah CV yang menarik harus penuh dengan pengalaman organisasi meskipun tidak relevan dengan bidang kerja yang dituju?” Rizza menanggapi bahwa seleksi konten menjadi hal penting dalam menulis CV. “Tampilkan pengalaman yang mencerminkan kemampuan adaptasi, kepemimpinan, dan problem solving. Relevansi dan kualitas pengalaman jauh lebih bermakna daripada sekadar kuantitas,” jawabnya. Ia juga menambahkan bahwa kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris perlu dilatih secara konsisten agar menjadi kebiasaan profesional.
Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh para mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan praktisi profesional, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga memahami praktik nyata yang terjadi di dunia kerja. Pendekatan experiential learning ini menjadi salah satu indikator penilaian akreditasi yang menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengembangan diri di luar perkuliahan.
Dengan terselenggaranya pelatihan ini, bahwa CDC UIN Gus Dur menunjukkan komitmen kuat dalam menyiapkan lulusan yang unggul, adaptif, dan kompetitif. Training Softskill “Communication, Career & Problem Solving” menjadi bukti nyata bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter dan kompetensi personal yang mendukung kesiapan kerja serta pencipta peluang dan pemimpin masa depan yang siap berkontribusi di berbagai bidang profesional.
Penulis : Nuzulul.
Editor : Dr. H. Tamamudin, S.E., M.M.
