Wednesday, 18 June 2025 17:44

DOSEN FEBI UIN GUS DUR DR. TAMAMUDIN, M.M. MENJADI NARASUMBER FGD MORA THE AIR FUNDS

Pekalongan (18/06) Dalam rangka memperkuat peran riset terapan terhadap isu lingkungan dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kegiatan Focus Group Discussion (FGD) MORA THE AIR FUNDS sukses diselenggarakan di Hotel Dafam Pekalongan pada hari Rabu, 18 Juni 2025. Kegiatan ini diprakarsai oleh tim periset dengan ketua tim Prof. Dr. Susminingsih, M.Ag. dan menghadirkan narasumber Dr. Tamamudin, M.M., dosen FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yang membahas urgensi strategi integratif pengelolaan limbah tekstil untuk keberlanjutan UMKM di Indonesia.

Dalam forum tersebut, Dr. Tamamudin mengawali pemaparannya dengan menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara produsen tekstil terbesar di Asia Tenggara. Di balik potensi industri yang besar ini, terdapat permasalahan serius terkait limbah tekstil, terutama dari sektor UMKM yang kerap tidak memiliki sistem pengelolaan limbah yang memadai. “Limbah tekstil, baik berupa sisa kain maupun limbah cair dari proses pencelupan dan pencucian, memiliki dampak negatif bagi lingkungan jika tidak diolah dengan tepat,” tegasnya.

Sebagai solusi, beliau menawarkan strategi integratif yang menggabungkan pendekatan tradisional berbasis kearifan lokal dengan pendekatan modern berbasis teknologi. Misalnya, penggunaan pewarna alami dari daun jati, indigofera, dan kulit kayu mahoni yang lebih ramah lingkungan, dapat dikombinasikan dengan teknologi filtrasi modern atau biofilter berbasis mikroorganisme. Strategi ini, menurut Dr. Tamamudin, tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga mempertahankan nilai budaya dalam produk tekstil UMKM.

Lebih lanjut, Dr. Tamamudin menekankan bahwa integrasi teknologi juga membuka peluang efisiensi biaya produksi melalui penerapan model produksi tanpa limbah (zero-waste production). Dengan memanfaatkan kembali sisa kain menjadi produk turunan seperti tas, dompet, atau kain perca kreatif, UMKM tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga memperoleh nilai tambah yang signifikan. “Efisiensi dan keberlanjutan bisa berjalan seiring ketika teknologi dan tradisi disinergikan secara tepat,” ujarnya.

Ketua tim periset, Prof. Dr. Susminingsih, M.Ag., dalam sambutannya menyatakan bahwa FGD ini bertujuan untuk menjaring masukan dari para pelaku UMKM dan pemangku kepentingan guna merumuskan model implementatif hasil riset MORA THE AIR FUNDS. Ia menegaskan bahwa solusi yang lahir dari riset harus mampu menjawab kebutuhan konkret di lapangan dan dapat diterapkan dalam skala lokal. “Kami ingin hasil riset ini menyentuh realitas UMKM, terutama dalam menjawab persoalan limbah dan keberlanjutan industri tekstil,” tandasnya.

Suasana diskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) menjadi semakin dinamis dan terbuka setelah dibukanya sesi tanya jawab, yang mendorong partisipasi aktif dari para peserta, khususnya pelaku UMKM yang antusias menyampaikan pertanyaan, pengalaman, dan tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan. Interaksi dua arah ini menciptakan ruang dialog yang konstruktif antara narasumber dan peserta, sehingga memperkaya perspektif mengenai implementasi integratif pengolahan limbah tekstil berbasis kearifan lokal dan teknologi modern. Keterbukaan diskusi tersebut tidak hanya mencerminkan tingginya relevansi tema FGD, tetapi juga mengindikasikan adanya kebutuhan akan solusi aplikatif yang berakar pada realitas industri tekstil skala mikro dan kecil.

FGD ini menjadi langkah penting dalam mengembangkan model solusi lingkungan yang aplikatif, berbasis nilai lokal, dan didukung oleh inovasi teknologi. Kegiatan ditutup dengan penegasan komitmen bersama antara akademisi, peneliti, dan pelaku UMKM untuk mewujudkan ekosistem industri tekstil yang lebih hijau, produktif, dan berdaya saing global.

 

Reporter          : Nuzulul

Editor              : Aprin Yudhiarto, S.Pd.I