Kajen (22/10) Dalam rangka merealisasikan kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) bersama OJK menyelenggarakan seminar dengan tema “Digital Financial Literasi”. Acara ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya literasi keuangan serta mendorong kesadaran akan berbagai produk dan layanan keuangan yang aman dan terpercaya. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 22 Oktober 2024 di Studen Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Dalam Acara ini hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Prof. Dr. Muhlisin, M. Ag., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Prof. Dr. Shinta Dewi Rismawati, S.H., M.H., beserta jajarannya, serta Pembina UKM KSPMS Syamsuddin, M. Si. Selain itu telah hadir juga Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia diwakili oleh Kepala Divisi Pasar Modal Syariah PT Bursa Efek Indonesia Bapak Irwan Abdalloh, Kepala PT Bursa Efek Indonesia Jawa Tengah 1 Bapak Fanny Rifqi El Fuad, Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah Bapak Sumarjono, Kepala OJK Tegal Bapak Noviyanto Utomo, Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas, Ibu Ferawati, S.S., M.M.,
Dalam seminar yang menghadirkan para ahli, yaitu Gembong Suwito, Narotama Aryanto dan Ludi Arlianto, para peserta diajak untuk memahami pentingnya digitalisasi dalam literasi keuangan di era modern ini.

Gembong Suwito mengawali diskusi dengan memaparkan materi yang membahas bagaimana digitalisasi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi keuangan dan memanfaatkan layanan finansial. Menurutnya, transformasi digital dalam sektor keuangan memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mudah memahami dan mengelola keuangan pribadi melalui berbagai aplikasi dan platform digital yang tersedia saat ini.
Narotama Aryanto melanjutkan dengan menjelaskan bahwa digitalisasi tidak hanya mempermudah akses, tetapi juga menciptakan tantangan baru dalam hal keamanan dan literasi digital. Menurutnya, memahami literasi keuangan dalam konteks digital membutuhkan keterampilan tambahan, seperti kemampuan mengenali risiko penipuan dan menjaga keamanan data pribadi. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu lebih waspada dan memiliki pemahaman mendalam terhadap produk-produk keuangan digital agar dapat menghindari potensi kerugian. Edukasi dan literasi keuangan yang berfokus pada aspek digital menjadi kunci untuk menciptakan pengguna yang bijak dan sadar risiko.
Ludi Arlianto menutup seminar dengan menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, institusi keuangan, dan teknologi sangat penting untuk meningkatkan literasi keuangan digital di Indonesia. Ia menyarankan agar program edukasi keuangan semakin diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan digital generasi muda khususnya para mahasiswa, seperti melalui media sosial dan platform pembelajaran online. Dengan semakin meningkatnya literasi keuangan digital, Ludi optimis bahwa generasi muda Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi digital, mampu membuat keputusan keuangan yang lebih baik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Dengan terselenggaranya seminar ini, diharapkan sinergi antara OJK dan FEBI dapat terus berlanjut dalam upaya meningkatkan literasi keuangan di kampus. Kerja sama ini tidak hanya memperkuat pemahaman tentang keuangan, tetapi juga mendukung terciptanya generasi muda yang lebih melek finansial, khususnya di era digital yang terus berkembang.
Reporter : Nuzulul
Editor : Aprin Yudiarto, S.Pd.I
